Yogyakarta (5/16) , bertempat di gedung Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Yogyakarta, kuliah umum dengan narasumber Jean-Frédéric CLERC, Deputi CEA (Comicaria Energi Atomic) bertemakan Nanoteknologi menyedot animo besar mahasiswa.
Dipandu oleh Zumaro, Mahasiswa Elektronika Instrumentasi tingkat kedua STTN BATAN, kuliah umum dibuka dengan sambutan dari Ketua STTN BATAN Yogyakarta Dr. Sutomo Budiarjo, dilanjutkan kuliah utama oleh Jean-Frédéric CLERC . Kuliah tersebut dimoderatori oleh Anwar Budianto D.E.A.
CEA sendiri adalah pemain kunci dalam penelitian teknologi, pemain utama dalam penelitian, pengembangan dan inovasi, Energi Atom dan Energi Alternatif beroperasi di empat bidang utama yakni teknologi energi rendah karbon (nuklir dan terbarukan), teknologi informasi dan komunikasi untuk kesehatan, infrastruktur penelitian yang sangat besar (TGIR), dan pertahanan dan keamanan global. Untuk masing-masing empat bidang, CEA didasarkan pada keunggulan dalam penelitian fundamental dan industri.
CEA yang mengoperasikan lebih dari 10 pusat di seluruh Perancis ini mengembangkan berbagai kemitraan dengan organisasi penelitian lain, pemerintah daerah dan universitas. Dengan kata lain, CEA merupakan bagian integral dari aliansi nasional Perancis yang mengkoordinasikan penelitian di bidang energi (ANCHOR), ilmu kehidupan dan kesehatan (AVIESAN), Sains dan teknologi digital (ALLISTENE) dan Ilmu Lingkungan (AllEnvi). Diakui sebagai ahli dalam bidang keahliannya, CEA sepenuhnya dimasukkan ke kawasan riset Eropa dan memiliki kehadiran internasional yang terus berkembang.
Dalam kuliahnya, Jean-Frédéric CLERC mengatakan bahwa nanoteknologi bahkan sudah dikenal sejak lama. Dalam sejarahnya, penggunaan nanoteknologi emas dan perak untuk pembuatan ornament di atas kaca jendela yang penggunaannya tergantung pada warna dan analisis ukuran partikel. Begitu juga dengan nanoteknologi yang digunakan dalam pedang Damaskus, dan pewarna rambut dengan timbal nanokristal imbal oksida yang dicampur dengan kapur sebagai bahan pewarna yang diencerkan dengan air.
Seiring perkembangannya dewasa ini smarthphone yang dikembangkan dengan bahan nanoteknologi seperti nanoeectronics, nanoteknologi, maupun photorics dengan cepat menguasai pasar-pasar di Eropa. Infrastruktur masa depan untuk komunikasi data, penyimpanan dan pengolahan internet masa depan dengan luas lebar dan memiliki daya rendah (Photonics 3Darchitecture), pararel komputasi menggunakan prosesor tunggal dan tahap akhir adalah CYBER SECURITY . Begitu pula dengan Vehical Listrik (manufaktur dari manusia, bukan robot tapi coboticswhich yang dapat bekerja sebagai pekerjaan manusia, untuk listrik bahan lanjutan, mikroelektronik, nanoteknologi).
Dalam hubungannya dengan teknologi nuklir, nanotechologi dan aktivasi nuklir di bidang energi nuklir mampu diterapkan dalam banyak aspek. Dalam pesawat relasi antara keduanya digunakan untuk peningkatan konduktivitas komposit, untuk baterai dan sel bahan bakar.
Sebagai sebuah negara yang berkonsentrasi memajukan industrinya dalam berbagai bidang dengan tekhnologi, maka perlu adanya energi yang mencukupi untuk proses pengembangan energi tersebut.
Dibagian inilah nuklir memiliki peran yang penting. Dikatakan pula bahwa Prancis akan membangun pembangkit tenaga nuklir untuk memasok energi yang dibutuhkan dan juga untuk merealisasikan berbagai teknologi baru yang memerlukan energi nuklir di dalamnya. Bukanlah hal baru Prancis menggunakan nuklir di dalam kemajuan teknologinya. Bahkan di tahun 2030 negara ini berencana menjadikan nuklir sebagai setengah dari pemasok energi nasionalnya.
Mengenai hal ini muncul pertanyaan akan adakah kerjasama antara Indonesia dengan Prancis untuk pengembangan teknologi nuklir yang masih awam di Indonesia. Berbagai teknologi yang sejatinya menggunakan teknologi nuklir secara tidak disadari telah berkembang dengan pesatnya di berbagai negara maju. Indonesia yang masih merangkak mengembangkan energinya akan sangat terbantu dengan adanya kerjasama dengan Prancis.
Sumber daya manusia yang di persiapkan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir maupun BATAN Yogyakarta memang dipersiapkan untuk menjadi orang-orang yang berkompeten dalam hal ini dimasa depan. Oleh karenanya, Rissa, mahasiswi STTN BATAN mempertanyakan adakah jalan untuk melakukan kerjasama antara CEA dengan para peneliti muda yang melakukan penelitian dalam hal tersebut.
Menjawab pertanyaan Rissa, Jean-Frédéric CLERC mengatakan bahwa ada kemungkinan hal itu bisa dilakukan, ditambah lagi sebelumnya Ketua STTN BATAN juga menginginkan hal yang sama. Untuk hal itu dibutuhkan seorang yang berkompeten untuk mampu memenuhi syarat dan ketentuan serta membuka jalan bagi dirinya dengan proses yang tidak sebentar untuk bisa mendapat persetujuan melanjutkan studi ke Prancis. Setelah dirasa kemampuan dan kompetisinya sudah cukup, maka untuk melakukan kerjasama itu tidaklah mustahil.
Sedangkan Sasongko, mahasiswa elektromekanik STTN BATAN ini lebih tertarik mengetahui bagaimana dampak negative dari nanoteknologi itu sendiri. Dikarenakan teknologi yang canggih, dengan alat pelindung diri serta detektor badan dampak negatife sangatlah minim. Begitupun dengan produk yang dihasilkannya telah dijamin keamanannya.
Dengan adanya kunjungan Jean-Frédéric CLERC di STTN BATAN Yogyakarta, diharapkan adanya kerjasama yang mampu direalisasikan dalam bentuk penelitian dan pengembangan bersama teknologi nuklir dalam berbagai bidang khususnya industri yang melibatkan peranan dari kedua negara yakni Indonesia dan Prancis (desi/Depkominfo).
Recent Comments